Masih ingat tragedi Marc-Vivien Foe? Pesepakbola Kamerun yang meninggal di lapangan sepakbola ketika membela Kamerun di Piala Konfederasi 2003 saat menghadapi Kolombia? Foe, yang kala itu bermain di Manchester City, tewas akibat serangan jantung.
Ketika semifinal Piala Konfederasi, 26 Juni 2003, pertandingan memasuki menit ke-72, mendadak Foe terjatuh dan meski tim medis langsung bertindak, nyawanya tak tertolong. Dia meninggal begitu tida di rumah sakit. Pertandingan tersebut digelar di Stade de Gerland, kandang klub Olympique Lyon, tempat Foe pernah bergabung.
Menurut hasil otopsi, pemain kelahiran Nkolo, 1 Mei 1975 itu meninggal dunia karena serangan jantung akibat pembengkakan ventrikel kiri. Kata dokter, kondisi tersebut adalah pembawaan sejak lahir. Selain itu, tes racun juga menunjukkan tidak ada jejak obat doping atau narkotika dalam darah Foe.
Setelah Foe meninggal, manajer Manchester City kala itu, Kevin Keegan, langsung menyatakan bahwa nomor punggung 27 tak akan dipakaikan ke pemain lain sebagai tanda penghormatan untuk Foe. Bisa jadi Stade diberi nama ulang untuk mengingat Foe. Pun demikian dengan pemakaian nama Foe untuk salah satu tribun di Stadion City of Manchester milik Manchester City.
Ketika ingatan akan Foe masih nyata, satu lagi pesepakbola meninggal di lapangan hijau. Miklos Feher, pesepakbola Hongaria, yang bermain di klub SL Benfica, Portugal, kolaps ketika bertandang ke kandang Vitoria Guimaraes, 25 Januari 2004.
Ketika Feher jatuh pingsan, pertandingan dihentikan selama 15 menit dan tim dokter berusaha menyadarkannya. Sayang, Feher kemudian meninggal di rumah sakit. Hasil otopsi menyatakan, Feher meninggal karena cardiac arrhythmia yang disebabkan oleh hypertrophic cardiomyopathy. Pendeknya, ada masalah di jantung Feher yang menyebabkannya tewas.
Kedua pemain di atas adalah contoh pesepakbola yang meninggal di lapangan hijau. Kebetulan keduanya meninggalkan dunia ini lewat penyakit jantung. Namun belum ada cerita apakah menghantui tempat di mana mereka menghadapi maut.
Ada satu pemain bola jadul yang tewas di lapangan tapi bukan karena ada masalah di jantungnya. John Thomson, seorang kiper yang bermain di Glasgow Celtic dan timnas Skotlandia. Thomson lahir di Kirkcaldy pada 1909. Dia besar di kalangan keluarga penambang di Fife.
Kisah hidup indah yang semula membentang di hadapan Thomson terhenti saat Celtic bertandang ke kandang musuh bebututannya sekota, Rangers, di Ibrox, 5 September 1931. Memasuki babak kedua, Thomson dan penyerang tengah Rangers, Sam English, sama-sama berebut bola. Keduanya bertabrakan. Saking kerasnya tabrakan tersebut sampai-sampai tulang tengkorak Thomson retak karena terhantam lutut English.
Kejadiannya mirip dengan yang dialami kiper Chelsea Petr Cech di Stadion Madejski, 14 Oktober 2006. Tulang tengkoraknya retak terhantam lutut pemain Wigan, Stephen Hunt, saat keduanya saling berebut bola. Syukur, nyawa Cech masih bisa diselamatkan.
Nasib Thomson justru berbeda. Dia langsung tumbang dan tak sadarkan diri setelah tabrakan keras tersebut. Semula penonton di tribun mengira Thomson bisa bangkit lagi. Tak ada yang tahu bahwa saat itu juga Thomson tengah menghadapi sakratul maut, kecuali orang-orang yang melihat langsung betapa parahnya cedera Thomson ketika itu. Thomson segera dibawa ke rumah sakit. Pertandingan pun dilanjutkan dalam situasi yang sangat tak mengenakkan dan berakhir dengan skor 0-0.
Di rumah sakit Victoria, pada pukul 21.45, Thomson pun mengembuskan napas terakhir. Kala itu, usianya baru 22 tahun. Thomson kemudian dimakamkan di Pemakaman Umum Bowhill di Fife pada 9 September 1931. Banyak sekali pelayat yang mengantar kepergiannya. Menurut biografi Thomson, ada sekitar 30 hingga 40 ribu orang. Peti mati Thomson diusung oleh para pemain Celtic. Sedangkan di Ibrox ada karangan bung-bunga putih pada hari pemakamannya sebagai tanda penghormatan.
Pada 1993, akhirnya sebuah jalan di Fife diberi nama Thomson Court sebagai kenangan atas John Thomson. Para suporter Celtic pun tidak ada yang melupakan Thomson, bahkan ketika telah memasuki abad 21. Makam Thomson di Fife masih selalu dikunjungi oleh suporter Celtic.
Memang, Thomson sulit dilupakan, bahkan oleh Rangers sekalipun. Soalnya jika sedang “beruntung”, maka akan ada penampakan arwah Thomson di antara dua tiang gawang di Ibrox, seakan ingin menegaskan bahwa ia masih bisa menjaga gawang Celtic dari gempuran skuad Rangers. Lucunya, berita ini termuat di sebuah situs online yang berisi promosi pariwisata di Skotlandia.
Entah bagaimana perasaan para suporter dan pemain Rangers selama ini kala melihat stadion kebanggaan mereka justru dihantui oleh arwah pemain dari klub rival bebuyutan.
Mungkin, para suporter Celtic pun menyesali mengapa Thomson mesti meninggal di Ibrox dan bukannya di kandang Celtic, Celtic Park. Namun, ada bagusnya juga. Soalnya, hingga kapan pun, akan selalu ada ekstra kiper Celtic – walau hanya dalam ujud bayangannya saja – setiap kali klub itu betandang ke Ibrox.

hiiiiiiiii sereeemmm…….
Ada lagi ga cerita serem seputar sepak bola……
lam kenal maz…..tukeran link yuk maz…..rischan.co.cc